Powered by Blogger.

featured Slider

Terkini

Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Karya: Barlian AW

Anjing di jalan-jalan
Anjing di dalam pekarangan
Anjing di dalam rumah
Anjing di hutan-huta perburuan
Anjing di tong-tong sampah
Siapakah pemiliknya
Yang memberi dia makan
Yang memanjakannya dengan daging dan tulang
Yang mengelusnya siang dan malam
Yang menambalkan namanya dengan berbagai sebutan
 
Anjing-anjing itu telah kita manjakan
ilustrasi
Anjing-anjing itu telah kita beri susu
Katanya agar handal untuk berburu
Telah kita beri dia roti
Agar gesit mengejar pencuri
Telah kita beri dia daging
Agar tanggung menggonggong bila datang maling

Anjing-anjing betina
Anjing-anjing jantan
Anjing putih anjing hitan anjing belang
Telah menggonggong seruan azan
Telah menggigit daging zaman

Karena mereka bukan lagi
Penjaga rumah dan pekarangan
Tak lagi mau berburu kecuali merampas roti anak-anak kita
Tak lagi mau menggonggong kecuali memangsai merpati
Piaraan

Mereka terlalu dimanjakan
Tidak sekedar simbol kesetiaan kepada sang tuan
Tidak lagi jadi penurut

Lihatlah di jalan-jalan dia mencegat siapa
Lihatlah di lorong-lorong dia menodong siapa saja
Lihatlah di gedung-gedung dia melindungi siapa
Mereka adalah penebar rabies dan najis

Dia adalah lambang kebiadaban
Dia adalah lambang kebengisan

Sumber: Ensiklopedia Aceh( Adat, hikayat dan satra) 



Tempat yang mulia
Untuk manusia yang
Ingin ketenangan jiwa
Belajar makna kehidupan
Dunia dan akhirat

Tempat yang suci
Dengan segala kehidupan
Yang terus mengalir
Tanpa peduli perhiasan dunia
Yang melupakan manusia akan dirinya

Tempat dimana sendi-sendi hidup
Dapat dimaknai dengan hati nurani
Belajar mencintai, menyayangi
Belajar agama, beribadan dan beramal

Kini aku sangat merindukan tempat itu
Kini aku ingin kembali ke tempat itu
Kini aku ingin hadir di tempat itu
Sungguh sungguh
Aku rindu suasana di tempat itu

Kini rasanya diri ini seperti semakin jauh dari Allah
Jauh dari perbuatan yang di perintahkannya
Hati ini ternodai dengan pernak pernik dunia
Terlena dan terombang ambing di dunia fana
Tanpa haluan tanpa sadar

Rindu Masa Itu

Rasanya ingin kembali ke tempat itu
Rindu nasehat dari teungku teungku
Rindu suasana yang menyejukkan jiwa
Dan hati menjadi tenteram
Sungguh
Aku merindukan tempat itu
Rindu Nyantri...
Rindu Dayah...
Rindu Ulumuddin...

Banda Aceh, Ramadan 1436 H


Mahasiswa dan Teller Bank
ilustrasi

Disebuah bank nampak lalu lalang orang dengan keperluan dan kesibukan masing-masing. Para teller sedang melayani beberapa nasabah. Terlihat antrian tidak seberapa panjang dan tidak ramai seperti biasanya. Aku turut mengantri paling belakang.

“Ini dua-duanya Isvani? “Tanya Teller dengan dahi agak berkerut, bingung.

“ Iya” jawab Aku, singkat. Teller masih terlihat bingung belum mengerti, tatapan matanya mengarah kepadaku.

“ Oh iya, Aku kuliah dua Jurusan” Tambah aku karena melihat Teller dengan wajah manis itu semakin bingung tak menentu.

“oh iaia” dia melanjutkan lagi tugasnya.

“Emang enggak capek kuliah 2 jurusan, Dek? tanya teller rada-rada mau tahu dan juga sok-sok peduli.

“ ia capek lah kak, semua hal itu pasti capek, Cuma kalau udah terbiasa gak terasa lagi capeknya” kakak teller itu nampak mengangguk saja sembari sesekali melihat ke layar komputernya.

Setelah proses pembayaran usai, sembari menyerahkan slip sah pembayaran tadi. Gadis teller tadi berucap.

“hebat ia bisa kuliah dua jurusan” ucapnya sambil menebar senyum manis penghuni bank.

“ Iaa biasa aja lah, selagi masih mampu” jawab aku singkat dengan memcoba membalas senyumannya dan bersegera mengambil slip tersebut tanpa lupa mengucapkan terimakasih kemudian meninggalkan bank tersebut.

Begitulah selalu kondisi saat aku membayar uang pendidikan di Bank. Nama yang sama di slip pembayaran yang berbeda terkadang membuat Teller kebingungan. Namun kali ini si Teller agak rewel dengan menanyakan ini itu. Mungkin saja hanya basa basi semata dan bukan suatu persoalan yang berarti. Hanya saja terkadang Meu ulak-ulak hate dengan senyum yang dibuat-buat. Entahlah...

Rukoh, Juni 2015

Hikayat Meudeuhak
ilustrasi


Bismillahirrahmanirahhim

Ajaeb Subhanallah
Wadihirah lon calitra
Teumpat kheurajeun nanggroe watu
That meusyuhu hana tara

Tunong Baroh timu barat
Hana sapat upamanya
Faki meuseuki neubri seudeukah
Areute bahrullah neupeu beulanja

Kaya gasien habeu neutulong
Jeueb gampong neubri seudeukah
Padum-padum raja dibaroh
Troh meureutoh bak calitra

Keuhasilan unsyor nanggroe
Hana padoe geume keu raja
Peursembahan kayem geuintat
Ban nyang adapt kuat raja

Bak-bak siploh saboh geuteueng
Kheurejeuet krueng usyor kuala
Bak jeueb jeueb thon peursembahan
Padum hasilan jeueb-jeueb raja

Peurangoe neujroh ade pihthat
Hantom rakyat neu elanya
Neuboh diulei kulahkama meuh
Cahya peungeuh intan meutia

Pakayan pigot rupa pijroh
Nameusaboh ngon ulama
Padum namiet hamba teubusan
Hadle sajan alat seuenjata

Tandi waki padum bujang
Uleebalang han ek kira
Ngon lasyeuka kuat-kuat
Padum rakyat meuleulaksa

Padum sipa-i nyang me bude
Raja ade hana tara
Kuta nanggroe tujoh lapeh
Dum meuceh-meuceh maseng nama

Lapeh nyang phon bate hitam
Luah lim gam hana tara
Lapeh nyang dua akek nyang mirah
Rupa indah geuenta cahya

Lapeh nyang keulhee sangga meureuhut
Gotthat lanjut laku rupa
Lapeh nyang peuet nibak pirak
Hu meuhalak puteh safa

Lapeh nyang limong bate palinggam
Peungeueh di dalam ngon cuaca
Lapeh nyang nam suasa mirah
Cahya ceudah hana tara



Sumber: Buku Ensiklopedia Aceh 
Antara Dara Jeumpa dan Dara Peureulak
Ilustrasi
Sungguh daku tak mampu
Harus bagaimana bersikap
Sungguh sebuah tragedi
Yang sulit dipahami
Sulit dimengerti
Sulit memilih

Oh dara jeumpa
Hadir dalam hidupku
Tanpa sebuah kesengajaan
Begitu saja, begitu saja
Secara tiba tiba

Rupamu tak kalah dengan nama tanahmu
Benar sikap wanita seutuhnya
Rupamu ayu elok dipandang
Pesonamu menggodaku
Haruskah aku memuji mu seperti ini
Aku jatuh hati padamu

Di tanah raja dirimu lahir
Raja jeumpa dengan kemegahannya
Markas juang perang kemerdekaan
Kota juang sebutannya

Ratusan Kilometer ditanah lain
Tanah raja Peureulak
Kerajaan islam pada masanya
Dara itu terlahir ke dunia
Dengan rupa elok
Nan menggetar rasa jiwa
Tuturmu lembut bak salju Eropa
Aku Jatuh hati padamu

Banda Aceh, Juni 2015




Kejamnya Dunia Ini
ilustrasi
Malam yang panjang
Namun tidak dengan dia
Malam yang dingin
Namun tidak dengan dia
Malam yang sunyi
Namun tidak dengan dia
Malam yang indah
Namun tidak dengan dia
Malam yang ceria
Namun tidak dengan dia

Malam tiba
Dia masih berpeluh
Malam tiba
Dia masih bekerja
Malam tiba
Dia masih berjalan
Malam tiba
Dia masih mengadu nasib
Malam tiba
Dia masih terus bertahan

Orang orang sedang terbuai mimpi
Dia masih harus bermimpi
Tentang esok dan lusa
Tentang asa dan kenyataan
Tentang melanjutkan hari hari esok
Orang orang tertawa lepas di rumah
Dia masih harus mencari
Sesuap nasi kehidupannya
Dengan sepeda dayungnya itu
Bertahan di dunia fana ini

Ya Allah
Lindungi dia dalam kasih sayangMu
Berkahi hidup dia di akhiratMU kelak
Walau di dunia nampak hina dimata manusia
Namun dia tidak pernah menyerah
Tak pernah takhluk dengan kejamnya dunia

Simpang Galon , Juni 2015


Yang Pergi Di Waktu Malam
Ilustrasi
Karya: D. Keumalawati

Aku masih terjaga menanti kepulanganmu
Betapa malam telah sepi
Desahmu penuh duka
“tadi malam aku lupa terjaga
Padahal sebelum ku jenguk dia
Terpikir olehku kamera
Dia telah pergi tanpa sempat
Ku abadikan deritanya”
“sudahlah sayang”, Ucapku
“sungguh sudah cukup banyak
Yang pergi
Tanpa sempat kau rekam
Sementara tubuhmu pun
Semakin rapuh”
“aku tak pedulikan itu” Keluhmu
“aku hanya ingin kau tahu tentang perawan
Yang disetubuhi perulu itu
Telah pergi selamanya”
Aku tersenyum pilu
Kau semakin meradang
“begitu mudah memutuskan tali kehidupan
Hingga wanita yang terkapar
Diberondongi selengkangannya
Ah, percuma kau jadi ibu”
Gerutumu makin panjang
Nun di sana
Di awan-awan
Yuni melambangkan tangannya padaku
Pada kami yang terus terjaga
Gadis belia itu tersenyum
Melangkah di antara kembang putih
Wanginya tercium ke bumi

Banda Aceh, 10 Mei 199
*Yuni Afrida, gadis belia yang tertembus peluru di selangkangannya saat tragedi Simpang KKA, Lhokseumawe, 1999.

Sumber: Buku Ensiklopedi Aceh.



Membaca Fikiran
Ilustrasi
“ bisa dong baca fikiran orang” seru gadis itu dengan senyuman terbaiknya. Kurasa.
“ lagi-lagi. Setiap yang tahu aku mahasiswa psikologi selalu mengucap seperti itu.Nadya” balas aku dengan agak meninggikan suara. 
“tapi aku tidak begitu” ucap teman gadis tadi.
“ ia. Tapi bila dibuat perbandingan maka dari 10 orang dapat dipastikan 7 sampai 8 orang akan mengatakan seperti yang kau ucapkan tadi. Nadya.” Aku berusaha menjelaskan pengalaman selama ini selama mempelajari psikologi.
Nadya Ber  Oh saja. Diikuti pula oleh temannya.
Psikologi padahal ilmu yang mempelajari proses mental dan tingkah laku seseorang, bukan untuk melihat jiwa, fikiran, dan yang lain-lain. mungkin itu ada bagian ilmu lain yang bisa dipelajari. Namun sekali lagi. Hal hal seperti itu tidak masuk dalam ranah psikologi.


Banda Aceh, Juni 2015 



Gadis Bireuen

“Gadis bireuen memang hana pat koh” Ucap seorang kawan dengan mimik wajah seorang saudagar seberang daratan ini.
Baginya, dara bireuen seorang yang pantas dijadikan pendamping dalam mengarungi lautan kehidupan ia nantinya.  Menjadi sosok yang ideal dan baik memperingatkan dia ketika langkahnya mulai menjauh dari hati nurani manusia dan aturan agama. Benar-benar menjadi seorang pembimbing untuk anak-anaknya. Sungguh. Sikawan itu ingin anak-anaknya kelak lahir dari rahim seorang perempuan Bireuen.
“ perihal apa yang membuat kau begitu mengagumi gadis Bireuen? Tanya sitohang. Logat bataknya masih kental sedia kala. Ia sudah mengerti sedikit banyaknya bahasa Aceh selama sudah menjadi mahasiswa disalah satu kampus terbesar di Aceh. ia telah mengamalkan kata-kata dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.
“ kau Tohang tidak bisa mengerti yang aku rasakan, kau punya kenalan tidak dengan gadis bireuen, Hah! “ timpal Si Sof meniru logat dari tanah batak yang membuat si Tohang menahan tawa.
“ kalau kau punya dan dekat dengan si Gadis Jeumpa Itu, percayalah kau akan mengemis cinta padanya” lanjut si Suf dengan membara layaknya sedang menyanyi lagu dangdut dinegeri pecinta dangdut ini. walaupun sebenarnya dangdut saat ini sudah berbeda dengan zaman 2000an kebawah. Musik dangdut saat ini tak lebih hanya irama yang membangunkan “otot” manusia normal. Tak lebih. Zaman sudah berubah dengan segala kengerian yang ada.
“ ah. Macam penyair saja kau” tawanya sitohang tanpa bisa ditahan.
Alam kesadaran manusia memang sedikit yang nongol dari dalam diri seorang makhluk yang berakal dibumi ini. ketika alam ketidaksadarannya mulai bermain, maka kehebatan manusia bisa diluar kapasitas yang bisa diprediksi. Layaknya gunung es, Hanya puncaknya saja yang mungkin terlihat. Namun air yang menutupi bagian bawahnya sungguh tidak terkira besarnya gunung es tersebut. begitu setidaknya paparan dari sang tokoh psikologi. Sigmund Freud.
Mungkin. Saat ini si Suf masih berada dibawah alam kesadarannya sehingga kata-katanya keluar deras mengalir dengan tak bisa dibendung sedikit tidaknya mirip sang penyair.
“ Sibok peugah masalah Inong, selesaikan dulu tugas kita, besok pagi kumpul jam 8 dan warung kopi ini satu jam lagi tutup, jangan sampai berlanjut mengerjakan di kos. Selesaikan disini” Ucap si Abdol panjang lebar yang sedang mengetik di laptop. Teman temannya bukan malah membantu menyelesaikan tugas namun Asyik berdebat satu sama lain suatu permasalahan ditempat dan waktu yang salah.
“Iaiaiaa,Abdol” jawab si SuF dan Sitohang berbarengan.
Mereka kembali mengerjakan tugas yang tadi sempat terbengkalai karena berdebat masalah gadis bireuen itu. Suara mesin-mesin berjalan sudah berkurang karena malam sudah larut. Sesekali hanya terdengar satu dua tiga mesin tranportasi itu melintas dijalanan depan warung kopi mereka berada. Jalanan masih basah selepas hujan setengah jam lalu. Angin malam berdesing menyelimuti kota dengan hawa dingin sampai menusuk tulang belulang. Langit hitam pekat tanpa setitik cahaya bintang. Sungguh malam yang tidak ada pesona. Namun tidak dengan sang Gadis Bireuen. Nyannnnnn..........


Banda Aceh, Juni 2015 
Gadis Di Kebun Itu
Ilustrasi

Gadis itu
Di kebun nan hijau itu
Cangkul mengayun tanah itu
Butir Keringat mengalir di wajah manisnya itu
Sungguh gadis ringan tulang
Setiap pagi
Terkadang sore
Wajahmu muncul
Dibalik semak belukar itu
Rambut dikucir
Malu malu raga ini
Memandang wajahmu
Kala keringat diwajahmu
Mengalir jatuh kepundak
Engkau seka dengan ujung jarimu
Wajah  kelelahan memancar dari wajahmu


 Banda Aceh, April 2015 
Keluh Kesah Mahasiswa Psikologi
ilustrasi

Sore itu, seorang mahasiswa psikologi di salah satu universitas di daerah aceh sedang berbincang dengan seorang gadis . ia dan gadis itu baru 30 menit yang lalu saling kenal mengenal.
“ bisa itu-itu berarti lah..” timpal gadis itu dengan nada penasaran dan wajahnya agak sedikit memancarkan aura ketakutan.
“ itu apa? Membaca fikiran orang, kami  bukan dukun iaa” jawab mahasiswa psikologi membela diri sembari tertawa dengan terbawak . kemudian diikuti pula tawa dari gadis itu.
“keren juga sebenarnya kuliah di psikologi itu, rencana ada mau masuk ke psikologi. “ cerita gadis itu dengan nada serius.
“ kuliah aja di psikologi, tapi nanti siap-siap aja” ucap mahasiswa psikologi dengan wajah penuh keseriusan. Nampak seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada gadis itu.
“ kenapa?”
“siap-siap bila orang menyuruh membaca atau melihat kepribadiannya “ jawab mahasiswa psikologi dengan agak tersenyum.
“hahhaa” gadis itu hanya tertawa. Pembicaraan terus berlanjut sampai pembahasan habis. Waktu berjalan tanpa bisa menghentikannya. Waktu telah mempertemukan kedua anak manusia tersebut. waktu pula yang telah menjawab mahasiswa dan gadis itu karena matahari telah kembali ke peraduannya.


Banda Aceh, 30 Mei 2015 


Jasamu, Ibu
ilustrasi

Oh ibu
Betapa besarnya jasamu
Akan diriku ini
Betapa susahnya engkau
Membesarnya diriku ini
Dengan penuh kasih sayang

Oh ibu
Sangat tidak mampu
Aku membalas jasa-jasamu
Sangat tidak sanggup
Anakmu membalas kebaikan
Hati nuranimu

Oh ibu
Kaki ini berdiri disini
Dengan gagahnya
Adalah tidak lepas
Karena engkau ibu
Ingin sekali
Membalas jasamu
Semoga  


"Negara" Dalam Tanda Kutip

Tanahmu subur
Katanya tanah surga malahan
Dari dulu tanahmu jadi rebutan
Bangsa-bangsa dunia
Namun
Kini tak lebih hanya neraka belaka

Isi bumimu kaya
Mineral gas minyak
Batu pun bisa dibanggakan
Namun
Semua itu mengalir
Hanya ke pundi-pundi
Manusia tertentu

Apalagi lautmu
Sungguh mempesona mata manusia
Siapa yang mampu menahan
Namun
Lagi lagi
Dicuri
Dirampok
Dikuras
Sampai cicit-cicitnya

Apalagi hutanmu
Isi hutanmu
Dijarah
Ditebang
Digunduli
Diburu
Ahhh....
Katanya negaramu pancasila
Hukum HAM
Segala-galanya
Tangan rakyat punya kekuasaan
Benarkah itu negaramu?
Atau hanya negara fantasi
Hanya tertulis dalam batang dasar-dasarmu

Negaramu ini negara macam apa? Hah?
Pantaskah disebut sebuah negara
Negara yang besar
Seperti selama ini disanjung-sanjung

Jika tidak ada perubahan
Jika tidak ada kemajuan
Jika terus saja jadi permainan dunia
Bubarkan saja negaramu itu...

KutaRaja , April 2015